Monday, October 27, 2008

PERANG KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA 1945-1949

PERANG KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA 1945-1949

Proklamasi kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945 membawa Indonesia ke tahap yang baru, setelah terakhir kali berada dalam negara kesatuan Majapahit, Demak dan Mataram. Kini Indonesia berada dalam negara kesatuan Indonesia.
Teks Proklamasi

Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia.
Hal-hal yang menyangkut pengalihan kekuasaan dan lain-lain akan dilakukan
dengan seksama dan dalam tempo sesingkat-singkatnya.

Jakarta, 17 Agustus 1945

Soekarno Hatta
Atas Nama Bangsa Indonesia


Periode perang kemerdekaan 1945-1949 merupakan periode perang paling besar, Indonesia yang baru saja lahir harus menghadapi kekuatan Jepang, sekutu yang dimotori Inggris serta Belanda yang ikut membonceng.

Bangsa Indonesia yang baru saja gegap-gempita menjadi negara merdeka menghadapi ancaman asing, Sekutu yang tidak menyadari bahwa Indonesia baru saja memerdekakan dirinya melihat bahwa Indonesia masih kosong kekuasaan. Belanda yang baru saja sembuh dari serbuan Jerman ingin kembali menguasai Indonesia. Belanda menyadari untuk masuk ke Indonesia mereka harus menggunakan pasukan sekutu.

Berikut ini rangkuman perang yang terjadi saat sekutu mulai melaksanakan agresi militer ke Indonesia :

1. 18-25 Agustus 1945
Jepang membubarkan Peta/Giyujun dan Haeiho, kelak para tentara inilah yang menjadi dasar pembentukan tentara keamanan rakyat Indonesia serta laskar-laskar bersenjata lainnya.

2. September 1945
Sekutu memasuki Indonesia, sekutu mengambil alih kekuasaan dari Jepang.

3. 10 November 1945 Hari Pahlawan
Soetomo atau yang lebih dikenal sebagai Bung Tomo hadir pada saat yang tepat, saat kekuatan asing mengancam Indonesia, dia membangkitkan semangat rakyat Indonesia khususnya rakyat Surabaya. Sebelum perang 10 November 1945, Inggris telah menempatkan sekitar 6.000 pasukan di Surabaya. Menghadapi kekuatan sekutu seluruh Ulama Indonesia mewajibkan jihad bagi setiap kaum muslimin, kekuatan TNI dan laskar serta rakyat Surabaya hampir saja memusnahkan pasukan sekutu. Namun sekutu mengundangkan Soekarno untuk menghentikan perang, namun perang tidak berhenti, baru saja sehari Presiden Soekarno kembali ke Jakarta, perang pecah kembali, hal ini dipicu oleh tewasnya brigadir Jenderal A.W.S Mallaby, selama hampir satu bulan penuh tanpa henti perang terjadi di Surabaya dan sekitarnya. TNI bersama rakyat melakukan gerilya untuk mengalahkan tentara sekutu. hasil dari pertempuran Surabaya Inggris menyadari tindakan paling bijaksana adalah mengakui kedaulatan Indonesia.

4. 14-19 Oktober 1945 Merebut Kota Semarang
Pasukan Jepang yang bertugas menyerahkan kekuasaan kepada sekutu menguasai Semarang, tindakan ini tentu saja membuat amarah rakyat. TNI bersama rakyat dalam pertempuran lima hari Semarang, mengambil alih kota Semarang dari Jepang.

5. 1-15 Desember 1945 Palagan Ambarawa
Jenderal Soedirman memimpin TNI untuk memukul mundur tentara sekutu dibawah komando Jenderal Bethel. TNI berhasil menguasai kembali Kota Magelang dan Ambarawa. Tanggal 15 Desember diperingati sebagai hari infantri Indonesia.


arrow



Parade Angkatan Bersenjata, 5 Oktober 1946


6. 12 November 1946
Perjanjian Linggarjati

7. Januari 1946
Ibukota negara Indonesia pindah dari Jakarta ke Yogyakarta.

8. Maret 1947
Pertempuran Mojokerto, malam hari tanggal 23 Juli 1947 TNI dibawah pimpinan Mayjen Sungkono mengambil alih kota Mojokerto. Keesokan paginya TNI meninggalkan kota.

9. 27 Juli 1947
AURI melakukan serangan udara atas tiga kota yakni Semarang, Ambarawa dan Salatiga. Arti serangan ini menunjukan kepada sekutu bahwa Indonesia masih memiliki kekuatan udara.


arrow



Pameran Angkatan Udara di Maguwo Maret 1947

10. Januari 1948
Perjanjian Renville

11. Februari 1948 Bandung lautan Api
Perjanjian renvile memaksa TNI dan rakyat meninggalkan Bandung, agar kota Bandung tidak dijadikan benteng bertahanan Belanda, maka Bandung oleh TNI dan Rakyat dibakar. TNI (Divisi Siliwangi) dan rakyat mengungsi ke Jawa Tengah.


arrow



Jenderal Abdul Haris Nasution

12. 19 September 1948
TNI dengan divisi Siliwangi menumpas pemberontakan PKI di Madiun.

13. Desember 1948
TNI bersama Jenderal Soedirman melakukan perang gerilya untuk menyerang kekuatan Belanda, rute yang dilalui pasukan Jenderal Soedirman yakni Yogyakarta-Kretek-Wonosari-Wonogiri-Ponorogo-Trenggalek-karang Nongko-Kediri-Sedayu

14. 1 Maret 1949 Serangan Umum Yogyakarta
Jenderal Soeharto yang saat itu perpangkat Letnan Kolonel memimpin TNI bersama rakyat merebut kota Yogyakarta. Peranan Sri Sultan Hamengku Buwono IX sangat penting dalam serangan tersebut. Keberhasilan TNI merebut Yogyakarta dari Belanda membuat semangat juang TNI dan rakyat makin tinggi, keberhasilan ini mengangkat derajat TNI, supremasi TNI terhadap kekuatan asing makin tinggi. TNI menguasai kota selama enam jam, kemudian meninggalkan kota Yogyakarta.

15. Mei 1949
Perjanjian Roem-Roijen

16. 29 Juni 1949
Keadaan Yogyakarta yang genting, membuat para pemimpin Indonesia memindahkan Ibukota ke KotaTinggi di Sumatera, Sjafruddin Prawiranegara ditunjuk sebagai Pimpinan Pemerintah Darurat.

17. 29 Juni 1949
TNI memasuki Yogyakarta.


arrow



Yogya Juli 1949, Jenderal Soedirman ditengah diapit Kolonel Soeharto dan Sjafruddin Prawiranegara

18. Agustus 1949
Brigade 5 TNI dibawah pimpinan Kolonel Slamet Rijadi menyerang dan menguasai kota Solo.

19. 27 Desember 1949 Belanda mengakui kedaulatan Indonesia
Konferensi Meja Bundar di Den Haag, Belanda menghasilkan penyerahan kekuasaan dari Belanda ke Indonesia, Perjanjian ini juga merupakan hasil dari perang kemerdekaan, seluruh divisi dan laskar juang seperti Divisi Siliwangi, Gunung Jati, Diponogoro, Senopati, Ronggolawe, Brawijaya, Suropati, Laskar Masyumi, Hizbullah, Fi Sabilillah bersama rakyat berjuang serta upaya diplomasi dalam menegakkan kedaulatan Indonesia.

Perang terjadi diseluruh wilayah Indonesia, bukan hanya di Jawa dan Sumatera, Jenderal Soedirman dan Jenderal Nasution telah memberikan jasa yang besar kepada Republik Indonesia. Ketahanan dan Kedaulatan dapat terjaga jika TNI bersama rakyat bahu-membahu, kini kita telah berada pada era reformasi, namun sudah sepatutnya kita melihat kebelakang agar kita bisa lebih bijak, cerdas melangkah kedepan.

Sumber : http://www.tujuhtujuhtiga.com

0 comments:

Post a Comment